Influenza
Kata
influenza berasal dari bahasa Italia yang berarti “pengaruh” hal
ini merujuk pada penyebab penyakit; pada awalnya penyakit ini disebabkan oleh
pengaruh astrologis yang
kurang baik. Perubahan pendapat medis menyebabkan modifikasi nama menjadi
influenza del freddo, yang berarti “pengaruh dingin”. Kata influenza pertama
kali dipergunakan dalam bahasa Inggris untuk menyebut penyakit yang kita
ketahui saat ini pada tahun 1703 oleh J Hugger dari Universitas Edinburgh dalam
thesisnya yang berjudul "De Catarrho epidemio, vel influenza, prout in
India occidentali sese ostendit".
Spesies Haemophilus
Spesies
Haemophilus merupakan kelompok bakteri berukuran mikroskopik, gram negatif, dan
pleomorfik yang memerlukan media yang subur, biasanya mengandung darah atau
derivatnya untuk isolasi.
Haemophilus Influenzae
Haemophilus influenza uenzae pertama kali ditemukan oleh Richard Pfeiffer
(1892) ketika sedang terjadi wabah influenza. Haemophilus influenzae,
sebelumnya disebut bacillus Pfeiffer atau influenzae Bacillus, adalah
nonmotile, Gram-negatif, bakteri berbentuk batang pertama kali dijelaskan pada
1892 oleh Richard Pfeiffer selama pandemi influenza.
A. Definisi
Bakteri yang semula disebut
Bacillus Pfeiffer ini diartikan juga sebagai organisme yang hidup bebas pertama
yang memiliki seluruh genome sequencing. Haemophilus influenzae atau yang biasa
disingkat H. influenzae adalah bagian dari mikroflora normal pada bagian atas
saluran pernapasan pada manusia. Haemophilus influenzae bergerak di antara
sel-sel epitel pada saluran pernapasan untuk menginvasi dan menimbulkan
penyakit. Bakteri ini menjadi penyebab meningitis pada anak-anak dan terkadang
menyebabkan infeksi pada orang dewasa.
B. Nomenklatur
Haemophilus influenzae
Klasifikasi
Divisi : Bakteri
Kelas : Schizomicetes
Ordo : Eubacteriales
Famili :
Haemophilunaceae
Genus : Haemophilus
Spesies
: Haemophilus influenzae
C.
Morfologi
& Identifikasi
a) Ciri
organisme
Dalam
beberapa spesimen infeksi akut, organisme ini merupakan basil kokoid pendek
(1,5 mm)
yang kadang muncul dalam rantai pasangan atau pendek. Dalam perkembangbiakan,
morfologi tergantung pada usia dan medium. Dalam medium yang subur selama 6-8
jam kokobasil yang kecilterlihat banyak. Kemudian ada beberapa bentuk batang
yang lebih panjang, bakteri yang lisis an sangat pleomorfis.
Berbagai
organisme dalam pembiakan awal (6-18 jam) di medium yang kaya memiliki kapsul
tertentu. Tes pembesaran kapsul digunakan untuk identifikasi Haemophilus
Influenzae. Haemophilus influenzae sangat
peka terhadap desinfektan dan kekeringan. Bakteri ini tumbuh optimum pada suhu
37oC dan pada pH 7.4 sampai 7.8 dalam suasana CO2 10%.
b) Kultur
Dalam
media BHI (Brain Heart Infussion) ditambah darah, koloni kecil, bulat dan
cembung dengan perubahan warna yang kuat terbentuk dalam 24 jam. Koloni-koloni
pada agar coklat membutuhkan waktu 36-48 jam untuk mencapai diameter 1 mm.
IsoVitaleX dalam media agar mempercepat pertmbuhannya. Haemophilus Influenzae
adalah non-hemolisis. Disekitar koloni stafilokokus (atau yang lainnya), koloni
Haemophilus Influenzae tumbuh lebih besar (fenomena satelit, satelite
phenomene).
c) Sifat
Pertumbuhan
Identifikasi
berbagai organisme dari kelompok haemophilus sebagian didasarkan pada
penunjukan kebutuhan akan faktor-faktor penumbuh tertentu yang disebut X dan V.
Faktor X bertindak secara fisiologis sebagai hemin ; faktor V dapat digantikan
oleh nicotinamide adenine dinucleotide (NAD) tau koenzim lainnya.
d) Variasi
Dalam
variasi morfologisnya, Haemophilus Influenzae memiliki kecnderungan yang
kentara untuk kehilangan kapsul dan spesifitas jenis yang terkait.
Koloni-koloni varian yang tidak berkapsul kehilangan bentuk.
e) Tranformasi
Dibawah
kondisi eksperimental yang tepat, DNA yang diambil dari jeni Haemophilus
Influenzae mampu mentransfer spesifitas jenisnya pada sel lain (transformasi).
Ketahanan terhadap ampisilin dan khloramfenikol oleh gen-gen pada plasmid yang
dapat dipindahkan.
D. Cara infeksi
Infeksi oleh haemophilus influenzae terjadi setelah mengisap droplet yang
berasal dari penderita baru sembuh, atau carrier, yang biasanya menyebar secara
langsung saat bersin atau batuk. Haemophilus influenzae menyebabkan sejumlah
infeksi pada saluran pernafasan bagian atas seperti faringitis, otitis media,
dan sinusitis yang terutama penting pada penyakit paru kronik. Meningitis
karena haemophilus influenzae jarang terjadi pada bayi berumur kurang dari 3
bulan dan tidak umum dijumpai pada anak-anak diatas umur 6 tahun. Pada
anak-anak, selain meningitis, haemophilus influenzae tipe b juga menyebabkan
penyakit bacterial epiglottitis akut.
E.
Patogenesis
Haemophilus
Influenzae tidak memproduksi eksotoksin, dan fungsi antigen somatisnya terhadap
timbulnya penyakit belum jelas. Organisme tidak berkapsul merupakan bagian
tetap dari flora normal saluran pernafasan manusia. Kapsul bersifat
antifagositik dalam keadaan tidak adanya kapsular tertentu. Poliribose kapsul
fosfat dari Haemophilus Influenzae jenis b merupakan faktor krganasan yang
utama.
Tingginya
angka pengidap (carrier rate) dari Haemophilus Influenzae tipe b pada saluran
pernapasan atas adalah 2-4%. Tingkat carrier untu Haemophilus Influenzae tak
bertipe adalah 50-80% atau lebih.
Haemophilus
Influenzae tipe b dapatmenyebabkan meningitis, pneumonia, emphisema,
epiglotitis, selulitis, septik artitis, dan kadang-kadang beberapa bentuk
infeksi invasif lain.
Haemophilus
Influenzae tak bertipe cenderung menyebabkan bronkitis kronis, otitis media,
sinusitis, dan konjungtivitis yang terjadi akibat menurunya daya tahan tubuh.
Tingkat
karier untuk tipe a tak berkapsul dan c-f rendah (1-2%), dan berbagai jenis
kapsular ini jarang menyebabkan penyakit.
Haemophilus influenzae tidak
menghasilkan eksotoksin dan peranan antigen somatik toksiknya pada penyakit
alamiah belum jelas. Organisme yang tidak bersimpai termasuk anggota flora
normal saluran pernapasan manusia. Simpai bersifat antifagositik bila tidak
terdapat antibodi antisimpai khusus. Haemophilus influenzae yang memiliki
simpai khususnya tipe b menyebabkan infeksi pernapasan supuratif (sinusitis,
laringotrakeitis, epiglotitis, otitis) dan pada anak kecil meningitis. Darah
dari orang dengan umur kira-kira 3-5 tahun memiliki daya bakterisidal kuat
terhadap Haemophilus influenzae, dan infeksi klinik lebih jarang terjadi pada
orang itu. Namun sekarang antibodi bakterisidal sudah jarang ditemukan pada 25%
orang AS dan infeksi yang bersifat klinik lebih sering terjadi pada orang dewasa.
Haemophilus influenzae yang dapat digolongkan atau tidak bersimpai tipe b
umumnya menyebabkan otitis media (mekanisme patogeniknya belum jelas). Bakteri
ini dan pneumonia menjadi penyebab utama otitis media bacterial dan sinusitis
akut. Organisme ini dapat ikut aliran darah atau terkadang menetap di sendi.
Jika menetap di sendi maka bakteri dapat menyebabkan Artritis Infeksiosa
F.
Tanda dan gejala
Gejala
influenza dapat dimulai dengan cepat, satu sampai dua hari setelah infeksi.
Biasanya gejala pertama adalah menggigil atau perasaan dingin, namun demam juga
sering terjadi pada awal infeksi, dengan temperatur tubuh berkisar 38-39 °C
(kurang lebih 100-103 °F). Banyak orang merasa begitu sakit sehingga mereka
tidak dapat bangun dari tempati tidur selama beberapa hari, dengan rasa sakit
dan nyeri sekujur tubuh, yang terasa lebih berat pada daerah punggung dan kaki.
Gejala
influenza dapat meliputi:
1. Demam
dan perasaan dingin yang ekstrem (menggigil, gemetar)
2. Batuk
3. Hidung
tersumbat
4. Nyeri
tubuh, terutama sendi dan tenggorok
5. Kelelahan
6. Nyeri
kepala
7. Iritasi
mata, mata berair
8. Mata
merah, kulit merah (terutama wajah), serta kemerahan pada mulut, tenggorok, dan
hidung
10. Pada
anak, gejala gastrointestinal seperti diare dan
nyeri abdomen,
(dapat menjadi parah pada anak dengan influenza B)
G. Komplikasi
Komplikasi
yang dapat terjadi pada virus influenza adalah: Pneumonia influenza primer,
ditandai dengan batuk yang progresif, dispnea, dan sianosis pada awal infeksi.
Foto rongten menunjukkan gambaran infiltrat difus bilateral tanpa konsolidasi,
dimana menyerupai ARDS. Pneumonia bakterial sekunder, dimana dapat terjadi
infeksi beberapa bakteri (seperti Staphylococcus aureus, Streptococcus
pneumonia, Haemophilus influenza).
Sindrom
Reye adalah komplikasi yang mungkin timbul pada anak yang mendapatkan asetosal,
terutama berhubungan dengan influenza tipe B, ditandai dengan muntah yang berat
dan penurunan kesadaran sampai koma karena edema otak.
Komplikasi
lain adalah miokarditis, perburukan bronkitis kronik dan penyakit paru kronik
lainnya. Angka kematian adalah 0,5–1 per 1000 kasus. Sebagian besar
kematian terjadi pada usia ≥65 tahun.
H. Pencegahan
Cara
yang cukup efektif untuk menurunkan penularan influenza salah satunya adalah
menjaga kesehatan pribadi dan kebiasaan higienis yang baik:
·
Mencuci tangan
Sebagian besar virus
flu dapat menyebar melalui kontak langsung. Seseorang yang bersin dan menutupnya
dengan tangan kemudian dia memegang telepon, keyboard komputer, atau gelas
minum, maka virusnya akan mudah menular pada orang lain yang menyentuh
benda-benda tersebut.
·
Jangan menutup bersin dengan
tangan.
Bila kita menutup
bersin dengan tangan, maka virus flu akan mudah menempel pada tangan dan dapat
menyebar pada orang lain.
Jika kita merasa ingin
bersin atau batuk, gunakanlah tisu dan kemudian segera membuangnya.
·
Jangan menyentuh muka
Virus flu masuk ke
dalam tubuh melalui mata, hidung, maupun mulut. Menyentuh muka merupakan cara
yang paling umum dilakukan oleh anak-anak yang terserang flu dan akhirnya
menjadi cara mudah menularkan virus tersebut pada orang lain di sekitarnya.
·
Minum banyak air
Air berfungsi untuk
membersihkan racun dari dalam tubuh dan memberikan cairan pada tubuh. Orang
dewasa yang sehat umumnya membutuhkan delapan gelas air per hari.
I. Pengobatan
Orang
yang menderita flu disarankan untuk banyak beristirahat, meminum banyak cairan,
menghindari penggunaan alkohol dan rokok,
dan apabila diperlukan, mengonsumsi obat seperti asetaminofen (parasetamol)
untuk meredakan gejala demam dan nyeri otot yang berhubungan dengan flu.
Anak-anak dan remaja dengan gejala flu (terutama demam) sebaiknya menghindari
penggunaan aspirin pada
saat infeksi influenza (terutama influenza tipe B), karena hal tersebut dapat
menimbulkan Sindrom Reye,
suatu penyakit hati yang
langka namun memiliki potensi menimbulkan kematian. Karena influenza disebabkan
oleh virus, antibiotik tidak memiliki pengaruh terhadap infeksi; kecuali
diberikan untuk infeksi sekunder sepertipneumonia bakterialis.
Pengobatan antiviral dapat efektif, namun sebagian galur inflenza dapat
menunjukkan resistensi terhadap obat-obat antivirus standar.
Dua
kelas obat antivirus yang dipergunakan terhadap influenza adalah inhibitor
neuraminidase dan inhibitor protein M2 (derivat adamantane).
Inhibitor neuraminidase saat ini lebih disukai terhadap infeksi virus karena
kurang toksik dan lebih efektif.
J.
Penularan
Shedding virus
influenza (waktu di mana seseorang dapat menularkan virus pada orang lain)
dimulai satu hari sebelum gejala muncul dan virus akan dilepaskan selama antara
5 sampai 7 hari, walaupun sebagian orang mungkin melepaskan virus selama
periode yang lebih lama. Orang yang tertular influenza paling infektif pada
hari kedua dan ketiga setelah infeksi. Jumlah virus yang dilepaskan nampaknya
berhubungan dengan demam, jumlah virus yang dilepaskan lebih besar saat
temperaturnya lebih tinggi. Anak-anak jauh lebih infeksius dibandingkan orang
dewasa dan mereka melepaskan virus sebelum mereka mengalami gejala hingga dua
minggu setelah infeksi.
Influenza
dapat disebarkan dalam tiga cara utama:
1. melalui
penularan langsung (saat orang yang terinfeksi bersin, terdapat lendir hidung
yang masuk secara langsung pada mata, hidung, dan mulut dari orang lain);
2. melalui
udara (saat seseorang menghirup aerosol (butiran cairan kecil dalam udara) yang
dihasilkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau meludah)
3. melalui
penularan tangan-ke-mata, tangan-ke-hidung, atau tangan-ke-mulut, baik dari
permukaan yang terkontaminasi atau dari kontak personal langsung seperti
bersalaman.
Model penularan
mana yang terpenting masih belum jelas, namun semuanya memiliki kontribusi
dalam penyebaran virus. Pada rute penularan udara, ukuran droplet yang cukup
kecil untuk dihirup berdiameter 0,5 sampai 5 μm dan
inhalasi satu droplet mungkin cukup untuk menimbulkan infeksi. Walaupun satu
kali bersin dapat melepaskan sampai 40.000 droplet, sebagian besar dari
droplet tersebut cukup besar dan akan hilang dari udara dengan cepat. Seberapa
lama virus influenza dapat bertahan dalam droplet udara nampaknya dipengaruhi
oleh kadar kelembaban danradiasi ultraviolet: kelembaban rendah dan kurangnya
cahaya matahari pada musim dingin membantu kebertahanan virus ini.
Karena
virus influenza dapat bertahan di luar tubuh, virus ini juga dapat ditularkan
lewat permukaan yang terkontaminasi seperti lembaran uang, gagang pintu, saklar
lampu, dan benda-benda rumah tangga lainnya. Lamanya waktu virus dapat bertahan
pada suatu permukaan beragam, virus dapat bertahan selama satu atau dua hari
pada permukaan yang keras dan tidak berpori seperti plastik atau metal, selama
kurang lebih lima belas menit pada kertas tissue kering, dan hanya lima menit
pada kulit. Namun, apabila virus terdapat dalam mukus/lendir, lendir tersebut
dapat melindungi virus sehingga bertahan dalam waktu yang lama (sampai 17 hari
pada uang kertas). Virus flu burung dapat bertahan dalam waktu yang belum
diketahui saat berada dalam keadaan beku. Virus mengalami inaktivasi oleh
pemanasan sampai 56 °C (133 °F) selama minimun 60 menit, dan juga oleh asam
(pada pH <2).
Daftar
Pustaka
FKUI, 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Edisi Revisi . Jakarta : Binarupa. Aksara. Haryadi,
E. 2011. Haemophilus Influenzae.