Tuesday, June 17, 2014



Influenza
Kata influenza berasal dari bahasa Italia yang berarti “pengaruh” hal ini merujuk pada penyebab penyakit; pada awalnya penyakit ini disebabkan oleh pengaruh astrologis yang kurang baik. Perubahan pendapat medis menyebabkan modifikasi nama menjadi influenza del freddo, yang berarti “pengaruh dingin”. Kata influenza pertama kali dipergunakan dalam bahasa Inggris untuk menyebut penyakit yang kita ketahui saat ini pada tahun 1703 oleh J Hugger dari Universitas Edinburgh dalam thesisnya yang berjudul "De Catarrho epidemio, vel influenza, prout in India occidentali sese ostendit".

Spesies Haemophilus
Spesies Haemophilus merupakan kelompok bakteri berukuran mikroskopik, gram negatif, dan pleomorfik yang memerlukan media yang subur, biasanya mengandung darah atau derivatnya untuk isolasi.

Haemophilus Influenzae
Haemophilus influenza uenzae pertama kali ditemukan oleh Richard Pfeiffer (1892) ketika sedang terjadi wabah influenza. Haemophilus influenzae, sebelumnya disebut bacillus Pfeiffer atau influenzae Bacillus, adalah nonmotile, Gram-negatif, bakteri berbentuk batang pertama kali dijelaskan pada 1892 oleh Richard Pfeiffer selama pandemi influenza.
A.   Definisi
Bakteri yang semula disebut Bacillus Pfeiffer ini diartikan juga sebagai organisme yang hidup bebas pertama yang memiliki seluruh genome sequencing. Haemophilus influenzae atau yang biasa disingkat H. influenzae adalah bagian dari mikroflora normal pada bagian atas saluran pernapasan pada manusia. Haemophilus influenzae bergerak di antara sel-sel epitel pada saluran pernapasan untuk menginvasi dan menimbulkan penyakit. Bakteri ini menjadi penyebab meningitis pada anak-anak dan terkadang menyebabkan infeksi pada orang dewasa.

B.   Nomenklatur
Haemophilus influenzae

Klasifikasi
Divisi : Bakteri
Kelas : Schizomicetes
Ordo : Eubacteriales
Famili : Haemophilunaceae
Genus : Haemophilus
Spesies : Haemophilus influenzae

C.   Morfologi & Identifikasi
a)      Ciri organisme
Dalam beberapa spesimen infeksi akut, organisme ini merupakan basil kokoid pendek (1,5 mm) yang kadang muncul dalam rantai pasangan atau pendek. Dalam perkembangbiakan, morfologi tergantung pada usia dan medium. Dalam medium yang subur selama 6-8 jam kokobasil yang kecilterlihat banyak. Kemudian ada beberapa bentuk batang yang lebih panjang, bakteri yang lisis an sangat pleomorfis.
Berbagai organisme dalam pembiakan awal (6-18 jam) di medium yang kaya memiliki kapsul tertentu. Tes pembesaran kapsul digunakan untuk identifikasi Haemophilus Influenzae. Haemophilus influenzae sangat peka terhadap desinfektan dan kekeringan. Bakteri ini tumbuh optimum pada suhu 37oC dan pada pH 7.4 sampai 7.8 dalam suasana CO2 10%.




b)      Kultur
Dalam media BHI (Brain Heart Infussion) ditambah darah, koloni kecil, bulat dan cembung dengan perubahan warna yang kuat terbentuk dalam 24 jam. Koloni-koloni pada agar coklat membutuhkan waktu 36-48 jam untuk mencapai diameter 1 mm. IsoVitaleX dalam media agar mempercepat pertmbuhannya. Haemophilus Influenzae adalah non-hemolisis. Disekitar koloni stafilokokus (atau yang lainnya), koloni Haemophilus Influenzae tumbuh lebih besar (fenomena satelit, satelite phenomene).

c)      Sifat Pertumbuhan
Identifikasi berbagai organisme dari kelompok haemophilus sebagian didasarkan pada penunjukan kebutuhan akan faktor-faktor penumbuh tertentu yang disebut X dan V. Faktor X bertindak secara fisiologis sebagai hemin ; faktor V dapat digantikan oleh nicotinamide adenine dinucleotide (NAD) tau koenzim lainnya.

d)     Variasi
Dalam variasi morfologisnya, Haemophilus Influenzae memiliki kecnderungan yang kentara untuk kehilangan kapsul dan spesifitas jenis yang terkait. Koloni-koloni varian yang tidak berkapsul kehilangan bentuk.

e)      Tranformasi
Dibawah kondisi eksperimental yang tepat, DNA yang diambil dari jeni Haemophilus Influenzae mampu mentransfer spesifitas jenisnya pada sel lain (transformasi). Ketahanan terhadap ampisilin dan khloramfenikol oleh gen-gen pada plasmid yang dapat dipindahkan.

D.   Cara infeksi
Infeksi oleh haemophilus influenzae terjadi setelah mengisap droplet yang berasal dari penderita baru sembuh, atau carrier, yang biasanya menyebar secara langsung saat bersin atau batuk. Haemophilus influenzae menyebabkan sejumlah infeksi pada saluran pernafasan bagian atas seperti faringitis, otitis media, dan sinusitis yang terutama penting pada penyakit paru kronik. Meningitis karena haemophilus influenzae jarang terjadi pada bayi berumur kurang dari 3 bulan dan tidak umum dijumpai pada anak-anak diatas umur 6 tahun. Pada anak-anak, selain meningitis, haemophilus influenzae tipe b juga menyebabkan penyakit bacterial epiglottitis akut.

E.   Patogenesis
Haemophilus Influenzae tidak memproduksi eksotoksin, dan fungsi antigen somatisnya terhadap timbulnya penyakit belum jelas. Organisme tidak berkapsul merupakan bagian tetap dari flora normal saluran pernafasan manusia. Kapsul bersifat antifagositik dalam keadaan tidak adanya kapsular tertentu. Poliribose kapsul fosfat dari Haemophilus Influenzae jenis b merupakan faktor krganasan yang utama.
Tingginya angka pengidap (carrier rate) dari Haemophilus Influenzae tipe b pada saluran pernapasan atas adalah 2-4%. Tingkat carrier untu Haemophilus Influenzae tak bertipe adalah 50-80% atau lebih.
Haemophilus Influenzae tipe b dapatmenyebabkan meningitis, pneumonia, emphisema, epiglotitis, selulitis, septik artitis, dan kadang-kadang beberapa bentuk infeksi invasif lain.
Haemophilus Influenzae tak bertipe cenderung menyebabkan bronkitis kronis, otitis media, sinusitis, dan konjungtivitis yang terjadi akibat menurunya daya tahan tubuh.
Tingkat karier untuk tipe a tak berkapsul dan c-f rendah (1-2%), dan berbagai jenis kapsular ini jarang menyebabkan penyakit.
Haemophilus influenzae tidak menghasilkan eksotoksin dan peranan antigen somatik toksiknya pada penyakit alamiah belum jelas. Organisme yang tidak bersimpai termasuk anggota flora normal saluran pernapasan manusia. Simpai bersifat antifagositik bila tidak terdapat antibodi antisimpai khusus. Haemophilus influenzae yang memiliki simpai khususnya tipe b menyebabkan infeksi pernapasan supuratif (sinusitis, laringotrakeitis, epiglotitis, otitis) dan pada anak kecil meningitis. Darah dari orang dengan umur kira-kira 3-5 tahun memiliki daya bakterisidal kuat terhadap Haemophilus influenzae, dan infeksi klinik lebih jarang terjadi pada orang itu. Namun sekarang antibodi bakterisidal sudah jarang ditemukan pada 25% orang AS dan infeksi yang bersifat klinik lebih sering terjadi pada orang dewasa. Haemophilus influenzae yang dapat digolongkan atau tidak bersimpai tipe b umumnya menyebabkan otitis media (mekanisme patogeniknya belum jelas). Bakteri ini dan pneumonia menjadi penyebab utama otitis media bacterial dan sinusitis akut. Organisme ini dapat ikut aliran darah atau terkadang menetap di sendi. Jika menetap di sendi maka bakteri dapat menyebabkan Artritis Infeksiosa

F.    Tanda dan gejala
Gejala influenza dapat dimulai dengan cepat, satu sampai dua hari setelah infeksi. Biasanya gejala pertama adalah menggigil atau perasaan dingin, namun demam juga sering terjadi pada awal infeksi, dengan temperatur tubuh berkisar 38-39 °C (kurang lebih 100-103 °F). Banyak orang merasa begitu sakit sehingga mereka tidak dapat bangun dari tempati tidur selama beberapa hari, dengan rasa sakit dan nyeri sekujur tubuh, yang terasa lebih berat pada daerah punggung dan kaki.
Gejala influenza dapat meliputi:
1.      Demam dan perasaan dingin yang ekstrem (menggigil, gemetar)
2.      Batuk
3.      Hidung tersumbat
4.      Nyeri tubuh, terutama sendi dan tenggorok
5.      Kelelahan
6.      Nyeri kepala
7.      Iritasi mata, mata berair
8.      Mata merah, kulit merah (terutama wajah), serta kemerahan pada mulut, tenggorok, dan hidung
9.      Ruam petechiae
10.  Pada anak, gejala gastrointestinal seperti diare dan nyeri abdomen, (dapat menjadi parah pada anak dengan influenza B)
G.  Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada virus influenza adalah: Pneumonia influenza primer, ditandai dengan batuk yang progresif, dispnea, dan sianosis pada awal infeksi. Foto rongten menunjukkan gambaran infiltrat difus bilateral tanpa konsolidasi, dimana menyerupai ARDS. Pneumonia bakterial sekunder, dimana dapat terjadi infeksi beberapa bakteri (seperti Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza).
Sindrom Reye adalah komplikasi yang mungkin timbul pada anak yang mendapatkan asetosal, terutama berhubungan dengan influenza tipe B, ditandai dengan muntah yang berat dan penurunan kesadaran sampai koma karena edema otak.
Komplikasi lain adalah miokarditis, perburukan bronkitis kronik dan penyakit paru kronik lainnya. Angka kematian adalah 0,5–1 per 1000 kasus. Sebagian besar kematian terjadi pada usia ≥65 tahun.

H.  Pencegahan
Cara yang cukup efektif untuk menurunkan penularan influenza salah satunya adalah menjaga kesehatan pribadi dan kebiasaan higienis yang baik: 
·         Mencuci tangan
Sebagian besar virus flu dapat menyebar melalui kontak langsung. Seseorang yang bersin dan menutupnya dengan tangan kemudian dia memegang telepon, keyboard komputer, atau gelas minum, maka virusnya akan mudah menular pada orang lain yang menyentuh benda-benda tersebut.
·         Jangan menutup bersin dengan tangan.
Bila kita menutup bersin dengan tangan, maka virus flu akan mudah menempel pada tangan dan dapat menyebar pada orang lain.
Jika kita merasa ingin bersin atau batuk, gunakanlah tisu dan kemudian segera membuangnya.
·         Jangan menyentuh muka
Virus flu masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung, maupun mulut. Menyentuh muka merupakan cara yang paling umum dilakukan oleh anak-anak yang terserang flu dan akhirnya menjadi cara mudah menularkan virus tersebut pada orang lain di sekitarnya.
·         Minum banyak air
Air berfungsi untuk membersihkan racun dari dalam tubuh dan memberikan cairan pada tubuh. Orang dewasa yang sehat umumnya membutuhkan delapan gelas air per hari.

I.      Pengobatan
Orang yang menderita flu disarankan untuk banyak beristirahat, meminum banyak cairan, menghindari penggunaan alkohol dan rokok, dan apabila diperlukan, mengonsumsi obat seperti asetaminofen (parasetamol) untuk meredakan gejala demam dan nyeri otot yang berhubungan dengan flu. Anak-anak dan remaja dengan gejala flu (terutama demam) sebaiknya menghindari penggunaan aspirin pada saat infeksi influenza (terutama influenza tipe B), karena hal tersebut dapat menimbulkan Sindrom Reye, suatu penyakit hati yang langka namun memiliki potensi menimbulkan kematian. Karena influenza disebabkan oleh virus, antibiotik tidak memiliki pengaruh terhadap infeksi; kecuali diberikan untuk infeksi sekunder sepertipneumonia bakterialis. Pengobatan antiviral dapat efektif, namun sebagian galur inflenza dapat menunjukkan resistensi terhadap obat-obat antivirus standar.
 Dua kelas obat antivirus yang dipergunakan terhadap influenza adalah inhibitor neuraminidase dan inhibitor protein M2 (derivat adamantane). Inhibitor neuraminidase saat ini lebih disukai terhadap infeksi virus karena kurang toksik dan lebih efektif.


J.     Penularan
Shedding virus influenza (waktu di mana seseorang dapat menularkan virus pada orang lain) dimulai satu hari sebelum gejala muncul dan virus akan dilepaskan selama antara 5 sampai 7 hari, walaupun sebagian orang mungkin melepaskan virus selama periode yang lebih lama. Orang yang tertular influenza paling infektif pada hari kedua dan ketiga setelah infeksi. Jumlah virus yang dilepaskan nampaknya berhubungan dengan demam, jumlah virus yang dilepaskan lebih besar saat temperaturnya lebih tinggi. Anak-anak jauh lebih infeksius dibandingkan orang dewasa dan mereka melepaskan virus sebelum mereka mengalami gejala hingga dua minggu setelah infeksi.
Influenza dapat disebarkan dalam tiga cara utama:
1.      melalui penularan langsung (saat orang yang terinfeksi bersin, terdapat lendir hidung yang masuk secara langsung pada mata, hidung, dan mulut dari orang lain);
2.      melalui udara (saat seseorang menghirup aerosol (butiran cairan kecil dalam udara) yang dihasilkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau meludah)
3.      melalui penularan tangan-ke-mata, tangan-ke-hidung, atau tangan-ke-mulut, baik dari permukaan yang terkontaminasi atau dari kontak personal langsung seperti bersalaman.
Model penularan mana yang terpenting masih belum jelas, namun semuanya memiliki kontribusi dalam penyebaran virus. Pada rute penularan udara, ukuran droplet yang cukup kecil untuk dihirup berdiameter 0,5 sampai 5 μm dan inhalasi satu droplet mungkin cukup untuk menimbulkan infeksi. Walaupun satu kali bersin dapat melepaskan sampai 40.000 droplet, sebagian besar dari droplet tersebut cukup besar dan akan hilang dari udara dengan cepat. Seberapa lama virus influenza dapat bertahan dalam droplet udara nampaknya dipengaruhi oleh kadar kelembaban danradiasi ultraviolet: kelembaban rendah dan kurangnya cahaya matahari pada musim dingin membantu kebertahanan virus ini.
Karena virus influenza dapat bertahan di luar tubuh, virus ini juga dapat ditularkan lewat permukaan yang terkontaminasi seperti lembaran uang, gagang pintu, saklar lampu, dan benda-benda rumah tangga lainnya. Lamanya waktu virus dapat bertahan pada suatu permukaan beragam, virus dapat bertahan selama satu atau dua hari pada permukaan yang keras dan tidak berpori seperti plastik atau metal, selama kurang lebih lima belas menit pada kertas tissue kering, dan hanya lima menit pada kulit. Namun, apabila virus terdapat dalam mukus/lendir, lendir tersebut dapat melindungi virus sehingga bertahan dalam waktu yang lama (sampai 17 hari pada uang kertas). Virus flu burung dapat bertahan dalam waktu yang belum diketahui saat berada dalam keadaan beku. Virus mengalami inaktivasi oleh pemanasan sampai 56 °C (133 °F) selama minimun 60 menit, dan juga oleh asam (pada pH <2).




Daftar Pustaka


FKUI, 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Edisi Revisi . Jakarta : Binarupa. Aksara. Haryadi, E. 2011. Haemophilus Influenzae.